Tak Ku Sangka Kau Kembali Pak

 Ada begitu banyak hal yang dapat menghantarkan kita pada batas waktu kita. ada dengan sakit, kecelakaan, aktifitas biasa, dan sebagainya.

Hari Jum'at, 16 April 2021 jam 10.58 WIB menjadi penghujung waktu bapak, untuk berpulang. Tak pernah menyangka hal ini terjadi pada diriku. Memang aku dulunya pernah berandai-andai kalau ada yang meninggal saat puasa tidak begitu capek dan tidak ada masak-masak selepas pemakaman, Karena, aku pernah membaca suatu sumber yang mengatakan jika perbuatan demikian adalah bagian dari tradisi jahiliah yang masih diadopsi dan dijaga oleh mayoritas masyarakat Jawa. qadarullah aku bersuku jawa.

Hari senin, menjadi hari terakhir aku bertanya kondisi bapak. karena setelahnya bapak ndak bisa merespon segala hal yang kami ucapkan. hanya tiga kali anggukan yang dia berikan pertanda bahwa ia mengiyakan untuk bersemangat. Di senin itu, aku memutuskan untuk tidak bekerja bukan karena pure ingin menjaga bapak yang sakit. Tapi ada tugas deadline yang mengejarku. Akhirnya aku meminta izin untuk tidak bekerja karena bapak sakit. Namun, aku bersyukur jika senin itu aku menjaga bapak, membantu bapak untuk ke kamar mandi. Saat aku menyelesaikan tugas deadline ku. Aku pun turun untuk mengisi perut ku yang kosong di awal hari. Tak ku sangka, dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk berjalan ke kamar mandi.. Karena katanya bapak mau buang air besar. "bapak nggak tau kalau adek di atas, bapak kira adek kerja". Akhirnya ku bantu bapak untuk bisa ke kamar mandi dengan kursi plastik sebagai pengganti kursi rodanya. Perlahan-lahan kami gerakkan kursinya sambil menata kaki-kaki bapak yang mulai kehilangan kekuatan. Hingga akhirnya sampai di depan kamar mandi. Hebatnya bapak. dia tidak mau di angkat atau apapun karena dia merasa tidak nyaman. Dia coba sendiri tanpa meminta untuk dipegangi. Namun, aku memperhatikan dan memegan pingganggnya dari belakang. Mulai dia cba untuk bangkit dengan berpegang dengan kusen pintu dan tongkat jalannya, namun tiba-tiba kakinya tak memiliki kekuatan dan terjatuh. beruntung aku memegang pinggangnya sehingga ia tidak merasakan sakit. Namun ia bilang, sakit perut nya jadi hilang. bapak mau duduk dulu lah. bapak capek. Akhirnya ia menunggu di depan kamar mandi dengan duduk di atas kursi nya. Cukup lama dia duduk. aku tetap mengawasi nya dari belakang. sering ku tanyakan bapak mau ke kamar mandi sekarang. bapak mau makan. akhirnya setelah beberapa lama bapak mau ke kamar mandi lagi. tapi ku usulkan cara yang berbeda. "pak kita coba masuk kamar mandi nya duduk ya", bapak pun mengiyakan. perlahan-lahan dia mulai masuk ke kamar mandi dan berhasil masuk. Aku pun menunggu bapak selesai dari kamar mandi dan menunggu di luar sambil baca-baca buku tentang diabetes. 

Aku baru tahu, jikalau penyakit diabetes adalah penyakit yang mematikan. Indonesia menduduki peringkata ke-6 berdasarkan jumlah pengidap diabetes. Banyak hal-hal yang baru aku ketahui. Dulu aku tidak pernah berpikir jika diaetes adalah penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan komplikasi terhadap beberapa organ-organ tubuh dan saraf. Aku hanya berpikir bahwa diabetes adalah penyakit biasa. Akhirnya, aku tidak sekalipun menjaga, mengawal, serta mengawasi pola makan dan kehidupan bapak untuk bisa meredam keganasan diabetesnya itu. Lagi-lagi hany bisa menyesal 

Setelah selesai bapak keluar dan memakai pakaian. dan kami meminta bapak untuk makan. kami tawari beberapa makanan. namun bapak hanya menjawab enggak selera. 

Di senin siangnya aku harus ke Banuhampu tempat kerja ku untuk menyelesaikan pekerjaan, kemudian menjenguk rekan kerja ku yang sedang sakit di rumahnya. Umi pun sedang sakit TB paru. setelah itu pulang bersama mamak untuk menuju ke mariendal. di malam nya aku masih sempat berada di kamar bapak sambil menunggu sidang isbat. disitu bapak masih duduk dan melihat Tv. sambil bertanya-tanya.

di Selasa, aku pergi kerja tanpa pamit sama bapak. karena bapak sedang tidur dan aku pun tidak mau mengganggunya. Kami membelikan bapak nasi untuk makan siang. mamak membelikan air kelapa untuk bapak

di hari rabu, urus BPJS kakak. Bapak mulai tidak banyak merespon. kesadaran menurun. yang dirasakannya adalah sakit pada kaki dan pinggangnya. Disitu kakak menanyakan kepada wak anto pengobatan tradisional. Namun ada jawaban mengejutkan yang diberikan. Ia menyarankan untuk mengumpulkan seluruh keluarga besar dan saling memaafkan. 
Malam itu rumah kami ramai. ada banyak saudara-saudara dan tetangga yang datang melakukan apa yang disarankan oleh wak anto tersebut. Tak henti-henti air mata ini menangis. menangis dan menangis. 

Kamis, Kami bersepakat untuk menginfus bapak  supaya tenaganya bisa didapatkan dari infus, bidan mesti melakukan 4x percobaan hingga akhirnya mendapatkan venanya. Saat bapak disuntikkan antibiotik, bapak merasakan rasa sakit. selama diinfus, bapak cenderung aktif menggerakkan tangannya. dan sering kali mencoba melepas jarum infus yang ada di tangannya. Akhirnya kami sepakat copot infus setelag botol ketiga. Malam nya aku masih berusaha menanyakan kepada temanku, terkait kondisi bapak yang mulai menurun kesadarannya, meski ada satu respon berupa anggukan ketika kami bilang bapak semangat ya. saat kami mendampingi beliau. Aku mendapat jawabannya saat jam sahur esoknya. Beliau menyatakan bahwa kemungkina ada infeksi hebat yang terjadi sama bapak disebabkan diabetesnya itu. dan beliau menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit supaya ada penangganan yang tepat. Aku mendiskusikan hal tersebut kepada kakaku di pagi hari sebelum aku berangkat kerja. Ada kebimbangan yang memenuhi pikiran kami. satu hal jikalau dibawa ke rumah sakit di situasi begini, akan sangat riskan melihat kondisi bapak. dilain sisi, jika dibiarkan di rumah, hal ini bisa menambah keparahan penyakit bapak karena tidak ada penanganan yang tepat untukk bapak. diskusi kami pagi itu tidak membuahkan hasil.

Kakak dan mamak meyakinkanku tak mengapa jika bekerja, ada kakak dan mamak yang jagain bapak.


akhirnya aku pun berangkat kerja. Tak ada firasat apapun yang muncul dalam diri, sehingga aku rasa ya tak kan terjadi apa-apa. Aku selesai mengajar jam setengah 11 lewat, dan bersiap lanjut untuk mengajar di lokasi yang kedua. Ketika berhenti ingin berteduh karena guyuran hujan mulai lebat. Kakak menelpon dan mengabarkan bahwa bapak sudah kembali. Seakan ada guntur hebat yang sedang menyulut di hati. tangisan air mati mulai sederas hujan saat itu. Akhirnya ku putuskan pulang dengan hujan-hujanan dengan menggunakan semi mantel. Aku tak menyagka mendapatkan kabar duka di tengah guyurann hujan. sepanjang perjalanan ku lantunkan "allahummaghfirlahu warhamhu......"
sambil menangis dan menguatkan diri. mengaatakan bahwa takdir Allah yang terbaik berulang kali.

Aku sampai di rumh dengan pakaian yang basah. ku kabarkan beberapa orang lewat status wa ku beritu duka yan ku alami. Ku lihat bapak, sudah tertutup dengan kain putih di atas tilam tempatku tidur. orang-orang mulai bersiap dengan fardhu kifayah nya. Karena kami berencanan untuk mengebumikannya hari jum'at itu juga ba'da ashar.

Komentar

Postingan Populer